<


DPC HPI KOTA YOGYAKARTA

DPC HPI KOTA YOGYAKARTA

dpchpi.kotajogja@gmail.com | +62274 450 981 | Gedung Umar Kayam Komplex XT SQUARE Jl. Veteran 151 - 152 Umbulharjo Yogyakarta



Pelatihan Upgrading/Upskilling Pemandu Wisata di Yogyakarta 1- 4 Maret 2021

DPC HPI Kota Yogyakarta mengirimkan 10 orang peserta mewakili yaitu 8 orang dari anggota dan 2 orang tambahan dari Pemandu Lokal Kampung Wisata, dalam Pelatihan Upskilling Pemandu Wisata yang diselenggarakan oleh kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bekerjasama dengan DPD HPI DIY pada tanggal 1-4 Maret di hotel east park Yogyakarta.

4 Maret 2021

Berita HPI Jogja:

Pelatihan Upgrading/ Upskilling Bagi Pemandu Wisata

KEMENPAREKRAF - Gelombang 2

1 – 4 Maret 2021

Sejak 2 Maret 2020 lalu Indonesia telah menjadi salah satu Negara yang terpapar langsung oleh virus Covid 19 yang bermula di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Dampak dari merebakanya virus ini, sangat terasa oleh semua sektor kehidupan di Indonesia tidak terkecuali pariwisata. Dikutip dari Tribun news kamis 23 April 2020, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Ditjen Kemenhub) secara resmi melarang penerbangan dalam negeri (domestik) maupun luar negeri (mancanegara). Sejak saat itu pula kondisi Pariwisata tak lagi menggeliat seperti sediakala. Begitu banyak pelaku wisata yang kehilangan mata pencaharian nya diakibatkan tidak adanya wisatawan yang berlibur, baik itu mancanegara maupun domestik.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistisk (BPS), jumlah turis asing yang masuk Indonesia hanya 3,56 juta hingga akhir September 2020. Jumlah itu, anjlok 70,57% secara tahunan. Sementara itu Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengatakan, saat ini industri pariwisata, hotel dan restoran menderita kerugian mencapai lebih dari Rp 100 triliun atau US$ 7,1 miliar hingga awal November 2020. Kerugian tersebut terjadi karena adanya pandemi virus corona yang akhrinya terdampak pada semua industri pariwisata (kontan.co.id 19 Nov 2020).

Dalam rangka membantu para pelaku pariwisata, Pemerintah telah memberikan dana hibah sebesar Rp3,3 triliun melalui KEMENPAREKRAF RI.  Menurut Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Angela Tanoesoedibjo, “30 persen dari dana hibah ditujukan untuk membantu pemerintah daerah dalam penanganan dampak pandemi COVID-19 di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Sementara 70 persen dialokasikan untuk membantu pelaku usaha hotel dan restoran dalam menjalankan operasional kesehariannya, dan dalam menerapkan protokol kesehatan” (liputan6.com). Selain itu, dalam meningkatkan kualitas pelayanan serta kepercayaan konsumen terhadap sektor pariwisata pemerintah juga telah mengalokasin dana lebih dari 119 miliar untuk sertifikasi CHSE secara gratis.

Untuk menindak lanjuti berbagai dukungan pemerintah di atas, KEMENPAREKRAF RI melalui Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan, memilih DI Yogyakarta sebagai salah satu tempat untuk menyelenggarakan kegiatan Upgrading/Upskilling bagi para pemandu wisata, khususnya pemandu wisata umum dan pemandu desa wisata. Kegiatan tersebut diadakan pada tanggal 1 s.d. 4 Maret 2021 di Eastparc Hotel.  Melalui Dewan Pengurus Daerah Himpunan Pramuwisata Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPD HPI DIY) selaku organisasi yang menaungi para Peramuwisata yang tersertifikasi dan berlisensi resmi, mengutus 40 orang anggotanya yang diutus dari DPC dan DPD untuk turut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Di Yogyakarta sendiri, kegiatan pelatihan Upgrading/ Upskilling ini telah diselenggarakan untuk kali pertama pada tanggal 20-23 November 2020 dan kegiatan tersebut berjalan dengan lancar.

Kali kedua, Pelatihan Upgrading/ Upskilling Bagi Pemandu Wisata ini juga dilaksanakan secara tatap muka/ offline.  Registrasi peserta dilakukan pada hari Senin, 1 Maret 2021 pukul 11.00-12.00 WIB di lobby lantai 4 Hotel Eastparc dengan tetap mentaati protokol kesehatan. Para peserta wajib menyerahkan surat keterangan rapid test dengan hasil non-reaktif/ negatif pada saat kedatangan. Hal ini dilakukan guna mengantisipasi dan meminimalisir penyebaran virus corona di tengah pandemi covid-19.

Usai registrasi, para peserta diminta oleh panitia untuk segera masuk ke dalam Grand Ballroom. Ada beberapa informasi penting yang disampaikan oleh panitia terkait dengan pelaksanaan kegiatan. Tepat pukul 13.30 WIB para peserta diminta kembali masuk ke dalam Grand Ballroom untuk mengikuti acara pembukaan. Namun, oleh sebab satu dan lain hal, Dr. Wisnu Bawa Tarunajaya, SE.MM selaku Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan KEMENPAREKRAF tidak dapat hadir untuk membuka acara pelatihan Upgrading/ Upskilling Bagi Pemandu Wisata tersebut. Atas nama KEMENPAREKRAF, panitia menyampaikan permohonan maaf.

Materi pada hari pertama disampaikan oleh Ketua DPD HPI DIY Imam Widodo tentang HPI dan Tantangan Pemandu Wisata di Era New Normal. Materi yang disampaikan meliputi profil wisatawan nusantara dan mancanegara, data statistik wisatawan di Indonesia khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, kegiatan pariwisata yang berpengaruh terhadap lingkungan yang berkelanjutan (sustainable tourism), ekonomi sosial yang positif berdampak kepada lingkungan di destinasi wisata (responsible tourism), konsep baru dalam kepemanduan wisata, juga terkait tentang perkiraan perubahan pelaku wisatawan yang akan terjadi pasca pandemi. Acara berjalan lancar dan berakhir sedikit lebih cepat dari perkiraan yang tertera pada Rundown Acara.

Pada hari kedua (Selasa, 2 Maret 2021) acara dimulai pada pukul 08.00-17.30 WIB. Peserta dibagi ke dalam 4 kelas kecil (A, B, C, dan D), yang mana masing-masing kelas terdiri dari 20 orang. Dan di setiap kelas ada 2 Narasumber yang merupakan Dosen-dosen POLTEKPAR dari beberapa wilayah di Indonesia. Perwakilan yang dikirim oleh DPC HPI Kota Yogyakarta sebagian berada di kelas B, dan sebagian lagi berada di kelas C. Di kelas C, kedua Narasumber berasal dari POLTEKPAR Bali. Mereka adalah I Gusti Ngurah Agung Suprastayasa dan Ni Ketut Wiwiek Agustina. Materi yang disampaikan pada hari tersebut adalah tentang Storytelling. Tidak hanya disampaikan dalam bentuk narasi, materi Storytelling ini juga dikemas dalam bentuk diskusi dan sharing pengalaman dan informasi dari masing-masing peserta, sehingga atmosfir dan suasana di kelas menjadi lebih hidup dan menyenangkan. Setelah sesi ke-1 dan ke-2 diisi dengan penyampaian materi, maka kemudian sesi ke-3 dan ke-4 digunakan untuk praktek Storytelling. Para peserta terutama pemandu desa wisata diminta untuk mempraktekkan ilmu Storytelling yang telah didapatkan selama mengikuti kelas tersebut. Ada 8 peserta yang melakukan presentasi mewakili desa wisata masing-masing. Desa Wisata tersebut yaitu Desa Wisata Bawuran, Desa Wisata Pulesari, Pentingsari, Mangir, Ngringinan, Goa jepang, Tebing Breksi, dan Kampung Ingkung Kalak Ijo.

Kelas kecil masih dilanjutkan pada hari ketiga (Rabu, 3 Maret 2021) mulai pukul 08.00-15.00 WIB. Materi kali ini mengenai Pelayanan Prima dan Implementasi CHSE (Cleanlines, Health, Safety, and Environmental Sustainability) dalam Pemanduan Wisata. Materi pelayanan prima berkisar tentang pelayanan terbaik yang yang dapat diberikan kepada tamu/ wisatawan, analisis kepuasan tamu terhadap jasa/ produk yang diberikan, ekspektasi dan kepercayaan tamu, termasuk tips dan trik dalam menghadapi kendala yang bisa saja terjadi di lapangan saat pemandu wisata memberikan pelayanan terbaik kepada wisatawan. Sementara materi tentang Implementasi CHSE menyinggung hal-hal yang berkaitan dengan protokol kesehatan dalam kepemanduan, sertifikasi CHSE, penerapan CHSE, berikut analisis kendala penerapan CHSE di hotel, restoran, mobil/ bus (transportasi), tempat-tempat wisata, dan fasilitas-fasilitas umum yang disinggahi. Seperti pada hari sebelumnya, penyampaian dan pembahasan materi tidak hanya satu arah, melainkan dua arah. Di samping narasi, kami banyak melakukan diskusi dan sharing sehingga bisa saling melengkapi satu sama lain. Kelas kecil berakhir pada pukul 15.00 WIB. Peserta diberi jeda 30 menit untuk sejenak rehat kopi dan waktu untuk melakukan sholat Ashar bagi yang berkewajiban melaksanakannya.

Tepat pada pukul 15.30 WIB para peserta diminta untuk kembali berkumpul ke Grand Ballroom. Materi berikutnya adalah tentang Sumbu Filosofi yang dikemas dan disampaikan dengan begitu ciamik oleh Ir. Yuwono Sri Suwito, M.M. Beliau dengan khas lawakannya yang renyah itu menyampaikan perihal sumbu filosofi (Kandang Menjangan – Keraton Ngayogyakarta Hadiningkrat – Tugu Yogyakarta) yang berkaitan erat dengan Sangkan Paraning Dumadi. Beliau juga menyampaikan beberapa filosofi vegetasi yang terdapat di sepanjang sumbu filosofi, diantaranya yakni pohon asem, pohon gayam, sawo kecik, kluwih, pohon jati, pohon tanjung, makuta dewa, cempaka, bougenvil, pohon manggis, dan juga pohon bodhi.

Acara resmi ditutup pada pukul 17.30 WIB oleh Surana, S.H MBA selaku Plt. Direktur Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Penyelesaian administrasi dilakukan pada pukul 20.00 WIB, sehingga keesokan harinya para peserta bisa segera kembali pulang ke rumah masing-masing. Kegiatan yang berlangsung efektif selama tiga hari tersebut diselenggarakan dengan tetap mentaati protokol kesehatan yakni selalu mencuci tangan, selalu memakai masker, dan menjaga jarak.

Materi bisa didownload disini:

https://drive.google.com/drive/folders/1Cg331HB3WhCIPwaSsbVHhEkr72A0xcuf?usp=sharing

Reportase by

Ophan dan Afni

Anggota DPC HPI Kota Yogyakarta

Copyright © IDEDEV.ID. 2015 All right reserved