<


DPC HPI KOTA YOGYAKARTA

DPC HPI KOTA YOGYAKARTA

dpchpi.kotajogja@gmail.com | +62274 450 981 | Gedung Umar Kayam Komplex XT SQUARE Jl. Veteran 151 - 152 Umbulharjo Yogyakarta




Pojok Beteng Lor Wetan selesai Dipugar, Source : @bionmotret

Ada hal hangat yang beberapa hari bertentangan dimedia massa dan dikomunitas peduli sejarah dan budaya serta kerabat keluarga Ngajogjakartahadiningrat.

Bangga dan kagum kita akan selesainya pemugaran Benteng Pojok Lor-Wetan Keraton Ngajogjakartahadiningrat itu bagi saya justru menjadi magnit untuk menelisik : "mengapa benteng itu hancur?"

Di berita lain, hangat diberitakan adanya gugatan 57 ton emas ( oleh Trah HB II ) dan rampasan milik Keraton Ngajogjakartahadiningrat oleh Inggris.

Dua hal itu memicu kekecewaan saya ...

Banyak dan mudah  disebut bahwa hancurnya Benteng Lor-Wetan itu karena geger : spooy / spehi / spei

Dalam pemikiran saya, saya bertanya, mengapa istilah : spy tidak disebutkan diberbagai artikel sejarah ?

Saya tahu jawabnya : "supaya tidak ada pihak yang merasa dijadikan SPY" dalam konteks Geger Spei itu ...

Tapi seharusnya pengungkapan sejarah tidak boleh ditutupi

Itulah kesantunan ketimuran kita ...

Kalau memang benar dari akibat Geger Spehi itu 57 ton emas dirampas Inggris ... wow !!! Betapa kayanya keraton Ngajogjakartahadiningrat saat itu dan  betapa "rakus / cluthak / nggragas" nya penjara itu ...

Namun, ada yang jauh lebih parah dari rampasan emas itu, yaitu: "MANUSKRIP SEJARAH"

Tahun yang lalu ( kalau tidak keliru ), HB X dan tim pergi ke London untuk melacak, mengkonfirmasi dan meminta dipulangkannya "manuskrip-manuskrip" yang  berada disana.

Sumber terpercaya mengatakan bahwa: "hanya copy digital yang bisa diberikan kepada pemilik syahnya" ...

Kejadian di Inggris itu sama ketika saya melacak informasi sejarah "Situs Plered"
Sumber dari UGM juga menyebutkan bahwa, di Belanda kalau kita mau meminta pulang atau menginginkan isi manuskrip, yang diberikan hanya copy digitalnya.

Waduh ... ... ... inikan : "sontoloyo" ( maaf saya jengkel ) ...

Mau mengambil hak dan warisan leluhur kok dihalangi ... ?!

Ada hal yang "sangat berarti" bagi saya melebihi dari nilai emas dan manuskrip yang dirampas itu ... yaitu :

#1 :
Telah terjadi "perampasan intelektual" terhadap brayat Ngajogjakartahadiningrat!

Dokumen-Dokumen yang dijarah itu bukanlah hasil sastra atau karya tulis kelas bungkus kacang ...

Isi dari dokumen atau manuskrip itu nilainya sungguh tinggi bagi kita semua yang mau peduli akan sejarah dan budaya pertiwi

#2 :
Manusia bersifat kedagingan dan tetap mempunyai "kelengahan / lena / ambisi" ... silahkan pelajari lebih dalam perihal Geger Spehi, karena terlalu panjang saya ungkap disini

Sudah terjadi berkali-kali didalam catatan  sejarah bahwa ketika ada kerajaan yang "moncer" pasti kemudian terjadi "intrik" yang bersifat destruktif bagi kejayaan kerajaan itu ...

Nah, lalu saya memiliki pertanyaan untuk saya sendiri ... :

"seandainya data, dokumen, manuskrip, artefak atau apapun produk sejarah itu semua terjaga lengkap di bumi pertiwi, apa yang bisa saya perbuat dalam kiprah saya mencintai dan melestarikan sejarah dan budaya agung warisan leluhur?"

Pertanyaan saya itu menukik kepada : "sejarah dan budaya adalah identitas diri manusia dan bangsa pemiliknya"

Lalu ... saya ingin menutup bincang ini dengan pertanyaan ( "juga untuk diri saya sendiri" ) : "bagaimana identitas diri dan kepedulianku dalam konteks sebagai pewaris sejarah dan budaya leluhurku?"


Semoga opini saya ini bermanfaat 🙏🏼

... jangan lupa sruput wedang empon-emponnya ...

 

Drs. C. Didi Widiatmoko
( Ki Sanakalit )

Copyright © IDEDEV.ID. 2015 All right reserved