<


DPC HPI KOTA YOGYAKARTA

DPC HPI KOTA YOGYAKARTA

dpchpi.kotajogja@gmail.com | +62274 450 981 | Gedung Umar Kayam Komplex XT SQUARE Jl. Veteran 151 - 152 Umbulharjo Yogyakarta



Kipo, kuliner khas Kotagede yang bikin penasaran

Bentuk makanan Kipo kuliner khas Kotagede Yogyakarta.

Berita HPI Jogja - Cerita Aning tentang Kipo, Kuliner khas Kotagede, Yogyakarta.

Hai…..teman-teman

Kotagede, jika ku sebut nama kota tersebut apakah kalian tahu di mana letaknya?

Ya, Kotagede adalah sebuah Kota Kecamatan di Jogjakarta yang letaknya di sebelah tenggara pusat kota kurang lebih 7 km saja. Pasti yang kalian tahu tentang kota ini adalah kerajinan peraknya, iya kan?

 Memang benar Kotagede adalah pusat kerajinan perak yang sudah terkenal sejak jaman dahulu kala. Bahkan mungkin sejak kerajaan Mataram Islam  berdiri dan berkedudukan di sana sekitar  tahun 1575 dengan Panembahan Senopati sebagai pendirinya. Kita ketahui bahwa logam perak jika diproses menjadi alat makan seperti gelas, piring maupun sendok sangat baik untuk mendeteksi adanya racun yang terkandung dalam makanan maupun minuman. Makanya keluarga Keraton khususnya, dahulu  banyak menggunakan alat makan berbahan baku perak, untuk alasan keamanan selain estetika.

Berwisata di Kotagede banyak yang sangat menarik diceritakan, Sejarah tentang  cikal bakal Dinasti Mataramnya, Wisata religinya, Wisata Arsitektur Bangunan Tradisionalnya dan tak kalah ngehitsnya adalah Kuliner khasnya. Nah aku sangat tertarik menceritakan tentang kulinernya.  Jenis kuliner tempo dulu di Kotagede sangat beragam jenisnya, ada Roti Kembang Waru, ada Kipo, Jadah Manten,  Yangko, Legomoro dan masih banyak lagi yang sudah sulit dijumpai di daerah lain. Makanan tradisional ini ada di pasar Kotagede, banyak orang datang ke pasar yang lebih dikenal dengan Pasar Legi ini setiap hari, bahkan datang dari luar daerah hanya untuk  berburu jajanan pasar  yang bikin penasaran ini.

 Pasar Kotagede di sebut pasar legi karena setiap legi nama pasaran di  kalender Jawa, lebih banyak pedagang dan pembeli yang datang dari hingga semakin ramai pengunjung bahkan jalan menuju dan dari pasar bisa dipastikan macet. Setiap pasaran legi banyak penjual burung maupun unggas lainnya maupun tanaman dipasarkan ke pasar ini selain kebutuhan pokok. Kebetulan pasar Legi ini adalah pasar tradisional yang  selalu buka setiap hari, pagi sampai sore, keramaian didalam pasar seperti pasar pada umumnya. Kemudian jam 14.00 an untuk pedagang makanan tradisional mulai  buka sampai malam di luar bangunan pasar utama. Untuk memanjakan lidah pembeli, jajanan pasar Kotagede sangat lengkap. Hayo, kalian pasti semakin penasaran kan, pengin mencicipi kuliner Kotagede?

Untuk mengobati rasa penasaran kalian, aku mau cerita tentang makanan unik dan imut dari Kotagede, namanya Kipo. Makanan seperti apakah Kipo itu?

Asal usul penamaan makanan ini adalah dari bahasa Jawa “iki opo” yang artinya “ini apa”? kemudian makanan ini dinamakan Kipo yang merupakan Akronim dari bahasa Jawa iki opo tadi. Saat ini di Kotagede dibilang sudah langka menemukan rumah produksi makanan ini. Yang masih bertahan sampai sekarang adalah keturunan dari Ibu Paijem Djito Suhardjo yang memiliki kios di jl. Mondorakan no. 27 sekitar 300 meter sebelah barat pasar Kotagede. 

Citarasa khas dari jajanan ini adalah perpaduan antara gurih manis dan wangi dari proses pemanggangan kue ini dengan alas daun pisang dan bahan baku utamanya. Untuk bahan bakunya terdiri dari :

1. Tepung  ketan

2. Tepung beras

3. Parutan kelapa

4. Daun suji (pewarna alami hijau)

5. Daun pandan

6. Daun pisang

7. Gula jawa

Bentuk jajanan ini adalah pipih, kecil, imut dan unik berwarna hijau, dan didalamnya ada enten–entennya, jika digigit agak kenyal. Cara membuatnya dari adonan kedua jenis beras di campur kemudian dikasih warna hijau alami dari daun suji juga daun pandan untuk memunculkan aroma harumnya. Kemudian adonan ini di cetak pada piring tanah liat dan dipanggang  dengan alas daun pisang. Setelah beberapa saat atau hampir masak enten-enten atau parutan kelapa yang dicampur  gula jawa dimasukkan, lalu adonan dilipat menjadi dua dan dipanggang lagi sampai matang. Untuk satu kemasan kipo yang dibungkus kertas dan dialasi daun pisang terdiri dari 5 buah kipo dihargai Rp. 2500. Cukup murah bukan? Jika dibandingkan dengan proses dan rasa yang disajikan harga segitu sangatlah murah.

Jika ingin membeli makanan ini di kios Bu Djito harus dateng pagi – pagi loh teman – teman, karena bukanya mulai jam 06.00 jadi kadang jam 12.00 siang Kiponya sudah terjual habis.

Jangan lupa kipo adalah salah satu makanan basah jadi tidak tahan lama mungkin bertahan sekitar 24 jam saja. Maka lebih enak jika menikmati kipo langsung sambil ditemani teh hangat tawar atau kopi…..hmmmm menggugah selera sekali  ya teman-teman. 

Penulis

Aning Rengganis

Anggota DPC HPI Kota Jogja/ Bendahara DPD HPI DIY.

Copyright © IDEDEV.ID. 2015 All right reserved